?

Log in

No account? Create an account
Alya Hananti
02 February 2017 @ 12:02 am

Assalamualaikum!

Sudah lamaa sekali saya ga nulis, bukannya ga ada ide, tapi sekarang lebih membatasi diri aja buat muntah-muntah perasaan ke blog sebelum mengolah sendiri. Abis ini blog ternyata ada yang baca hahaha.

Apa kabar yah saya? Alhamdulillah sudah jadi dr. Alya Hananti, meskipun karena belum internship jadi masih serasa dokter ala ala. Alhamdulillah bulan ini akan ke Cirebon untuk mulai isip (yeay!) sama Manda (karena bagaimana ku bisa survive di dunia tanpa wanita ini) dan banyak teman-teman lainnya.

Sejak beres sumdok hingga akhir Januari lalu saya magang sebagai asisten dr. Vita di Psikiatri RSCM. Gimana rasanya magang di bidang yang udah jadi mimpi dan passion selama bertaon-taon? Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillahi rabbil alamin, only by being in heaven can feel better than this job! Lebay sih, tapi serius deh, magang di psikiatri adalah pencapaian saya di bidang akademik (atau karier yah ini masuknya?) yang paling cool. I know I sound lame, but I've never really been into any scientific or academic pursue after all my years in medicine school, so of course this naturally makes me psyched much all the time.

dr. Vita adalah penjelmaan bidadari di bumi ini. Serius,  ini bahkan bukan lebay. Sosok pemimpin yang bisa dipanggil "Mommy" sama semua bawahannya di kantor pastilah sesosok bidadari. dr. Vita ini idealis, gesit, inspiratif, super pintar, dan disiplin. Ini mah sifat-sifat pemimpin yang bagus pada umumnya yah. Standar lah. Tapiiii yang bikin dr. Vita super angelic adalah kebaikan hatinyaaaa. Ampun, ini Jakarta men, dan ada aja orang sedermawan, sesabar, dan sepenyayang dr. Vita. Beliau ngajarin saya bahwa sepusing apapun hidup kita, ya kalo kita bisa jadi orang baik aja ya jadilah. Beliau ngasih saya kesempatan bikin modul untuk orang dengan skizofrenia dengan risiko kardiometabolik. Awalnya ya kaget lah saya dapet tugas seperti itu. Hananti yang paling banter juga bikin CRS abal abal selama koas ini kemarin disuruh bikin modul yang mau dipake di Puskesmas se-Jakarta. Saya mengawali tugas menulis tersebut dengan rasa takut, minder, dan bingung karena hal paling ilmiah yang pernah saya tulis adalah skripsi hahahaha. Alhamdulillah, dr. Vita dengan sabar membimbing saya, bahkan mengapresiasi saya dengan baiiiiiiik banget. Coba, setiap saya abis ngirim modul ke beliau selalu dibalas "bagus banget mbak Alya, luar biasa". Dibilang begitu awalnya saya bingung luar biasa darimanaaa padahal itu draft masih cupaw. Terus saya sadar, apresiasi dr. Vita yang seperti itulah yang bikin saya terus berusaha nulis semaksimal mungkin, terus percaya kalo saya beneran bisa nulis modul ini dengan bagus banget. Fyuh, alhamdulillah. Coba kalo dibalesnya "kamu ini nulis modul apa iklan jual rumah di koran?".

Selain dr. Vita, ada juga dr. Citra yang ikut di penelitian ini. dr. Citra terkesan delicate, tapi energinya besar sekali. Atau emang orang UI sana sini ga ada capenya aja kali ya. Bertemu dr. Citra ini adalah pengalaman saya yang wah ampun, luarrrr biasa. Ya namanya juga magang di psikiatri ya, wajar lah kalo ditanya-tanya mendalam soal kehidupan. Wajar lah jika sentilan-sentilan yang asalnya obrolan ringan berlanjut jadi pembicaraan dalam. Pancingan-pancingan dr. Citra ini membuat saya jauuuh melihat ke dalam diri saya. Berapa kali yah saya nangis di kantor hahahahaha. Yang paling ngena adalah dr. Citra ngajarin kalau kita semua memang punya luka-luka dalam diri. Yang penting adalah... luka-luka itu harus dihadapi. Selalu ada harta karun yang berharga setiap kali kita menggali ke dalam diri kita lagi dan iya lah, proses penggalian itu ga gampang. Kalo gampang semua orang udah jadi biksu kali. Memang butuh keberanian dosis ekstra untuk menghadapi luka-luka kita, karena kita menghadapi sisi paling gelap dari diri kita sendiri. Tapi mengenali sisi itu penting. Menyembuhkan luka-luka itu penting. Cuma dari situ kita bisa menemukan harta karun, menemukan kekuatan internal kita yang mungkin selama ini kita gatau dia ada, kedamaian yang kita gapernah tau ternyata kita bisa raih. It's not an easy journey, but it is worthy.

Klise yah? Saya jadi kayak semacam remaja labil yang lagi punya masalah pergaulan dan terombang-ambing nyari jati diri, mana tulisan di atas ini ala ala Mario Teguh banget memang. Ya terombang-ambing banget ga sih, tapi namanya juga hidup: ada naik turunnya. Labil banget juga ngga, tapi namanya juga perempuan: suka meragukan dan pusing sama banyak hal yang sebenernya sederhana. Wk. Sebelum saya magang, hidup ga lagi turun juga sih buat saya, ga banyak hal yang bikin pusing juga. Justru hidup lagi stagnan saat itu. Makanya pembicaraan dengan dr. Citra bikin saya semacam keluar dari kondisi saya yang berkabut haha.

Terakhirrr, ada Mas Dim, sesama asisten penelitian dr. Vita. Alhamdulillah, Mas Dim sama saya sefrekuensi, meskipun ya lebih shaleh dan lurus Mas Dim sih hahaha. Sebagai sesama anak cupu di bidang penelitian, kami sama-sama senang karena ada teman cupu bersama hahaha. Selain teman cupu, juga teman cerita galau kehidupan, teman diskusi soal pilkada, teman yang suka nyanyi lagu JKT48 sambil ngetik (sumpah deh, sebelum ketemu Mas Dim mana tau aku kalo lirik lagu JKT48 tuh semacam "pergilah kamu nenek sihir perebut pacar, masuk saja neraka") dan teman ngabisin cemilan di kantor, wk. So cool deh punya partner yang mirip banget karakternya sama besties saya selama ini. I wish you a good life ahead, Mas. Kasian Mas Dim karena ku pergi internship akhirnya beban ngabisin cemilan buat Mas Dim bertambah hahaha.

So those are three people who have helped me grow for these 3 months. Rasanya menyenangkan sekali ketemu orang-orang baru yang mengenalkan saya pada dunia baru dan memperkenalkan kemungkinan-kemungkinan baru yang saya sebelumnya gatau ada. Setelah selama di Bandung rasanya hidup tuh sempit banget karena lingkaran-lingkaran saya beririsan mulu sampe bosen dan pusing ga jelas, hidup 3 bulan ini rasanya... bikin seger ya hahaha. Alhamdulillah Allah Maha Baik.

So yeah, this is my newlyfound squad!  Oiya ada Mba Isti juga yang gantiin aku. Orangnya baik, anaknya lucu. Super cool juga karena orang yang ngasih nama anak sesuai nama salah satu VS Angel kuanggap orang yang pintar. Baru tau segitu aja soal Mba Isti tapi ku berharap kubisa balik balik lagi ke squad ini hahaha. Sampai jumpa!

Btw ku jadi ingin ngasih nama anak kalo perempuan Karlie, atau Alessandra, atau Rosie Huntington. Mungkin Rosie Hananti kalo boleh sama suami. Ga deng, orang Sunda mah bakal tetep nulisnya nanti "Rosi Hananti" atau "Karli Hananti", jadi ga cool yah.

Rosie Karlie Hananti. Hmm, boleh lah.

 
 
Alya Hananti
12 September 2016 @ 11:37 am

the way my fear consumes my space like a raging fire burning through forests, like a star waiting to burst into dusts, and water trickling endlessly into isolation and despair and isolation,

might just be the answer I've been looking for. it might be my salvation afterall.

 
 
Alya Hananti
24 July 2016 @ 12:33 pm

Meeting someone who encounters you as an open book is one crazy and scary life experience. Imagine having all of yourself for your own and then suddenly there's someone who has all the time to meet you, talk to you, understand you, and above all, trying to work it out with you. Imagine when you suddenly reveal deep secrets, show your worst scars, or just simply being annoying, demanding, and ugly to that one person. Imagine that one person doing mistakes to you. Imagine when you're just too tired with each other yet both still want to stay.

Imagine meeting a person who is as ordinary as you are, as clueless as you are, who suddenly take the dearest place inside your universe and you give him all the power to make you feel like you're worth it and like you're nothing from time to time.

That one person will be the scariest decision you've ever taken. Yet i am still grateful for it; this whole ride is still my best answered prayer. Imagine if i am your best answered prayer too.

 
 
Alya Hananti
27 June 2016 @ 04:40 am
while silence is somehow confusing, people should realize that silent persons use silence as a space to breathe, a space to detoxify anything that's plagued one's mind. silent persons don't use silence to create drama. instead, it is used to create the time to reflect and contemplate.

yet people who need silence in their lives are often the most misunderstood people due to our inability to deliver the right words on why we need this.

however, it's always okay when you collapse into your own silence. I personally think of silence just like I think of darkness; we stumble upon it just because we need to find the light within ourselves.
 
 
Alya Hananti
10 April 2016 @ 06:05 pm
Mengapa hujan bulan juni begitu tabah?
Mungkin karena rintik rindunya memang tak pernah dirindukan oleh hilangnya cerah di peraduan haru

Mengapa hujan bulan juni begitu bijak?
Mungkin karena jejak ragunya terbilang terlalu pias untuk merah mudanya senja yang sendu

Mengapa hujan bulan juni begitu arif?
Mungkin karena ucapnya selalu terlupa, berlalu bagaikan temaram yang kelabu.

"Tak ada yang lebih getir daripada hujan bulan juni,
digugurkannya segala kidung kalut yang lugu di bawah bayangannya yang pilu."

-Bandung, 10 April 2016, 18:03
 
 
 
Alya Hananti
01 December 2015 @ 12:29 pm

Hi, Kryptonite :)

 
 
Alya Hananti
29 November 2015 @ 08:23 am

Hai.

Mungkin siapa-siapa dari kita belum ada yang benar-benar tahu bahagia itu sebenarnya seperti apa. Yang aku tahu, bahagia itu rasanya seperti pulang ke rumah. Di rumah, aku bisa melakukan apa saja, menjadi siapa saja, tanpa takut orang berkata apa. Di rumah, aku bisa berteriak, menangis diam-diam, tertawa keras-keras, dan senyum-senyum sendiri tanpa ada yang bertanya-tanya. Hanya di rumah aku merasa aman, nyaman, dan terjaga.

Aku tahu sudah lama aku mendefinisikan bahagiaku itu kamu. Mungkin karena kamu sudah lama terasa seperti rumah buatku. Orang bilang, bahagia itu harus diperjuangkan, kan? Mungkin karena itu, dulu aku terus menunggu dalam diam, terus berdoa dalam diam, dan terus memendam apa-apa yang membuatku sakit dalam diam. Dulu itu bentuk perjuanganku. Sekarang bentuk perjuanganku hanya satu: bertahan dengan kuat untukmu. Semoga itu cukup buatmu. Semoga kamu pun bisa mencukupkan diriku sebagai bahagiamu.

Mari berdoa dan bertahan ya. Semoga kamu bisa bahagia dengan aku yang tidak pernah kemana-mana. Aamiiin.

 
 
Alya Hananti
07 November 2015 @ 10:55 pm

Why? Because with insecurities, you can actually see how girls perceive themselves and it's a cute thing to observe. I think, the space where the girls are endlessly contemplating how much they deserve things is the space where you can see the essence of their 'muchness'.

Nah, I don't make any much sense about this, but yeah, this is one of my food for thought.

 
 
Alya Hananti
27 October 2015 @ 11:41 pm

Hai! Dua foto ini saya ambil bareng sahabat saya dari SMA, Lety Nuroctaviani. Let, kalo suatu hari kamu nemu tulisan ini, jangan pundung yah. Itu putih2 teh maksudnya buat jadi hijab tapi maafin temenmu ini kurang bakat haha.

Dua foto ini jadi spesial karena di dua foto ini saya pake baju yang sama (haha ga penting pisan). Rasanya dua foto ini jadi semacam penanda kalo ke arah manapun saya tumbuh dan berkembang, ada beberapa bagian dari saya yang ga berubah. Bagian-bagian inilah yang dipegang dan direkam oleh teman-teman terlama saya yang kadang mereka ceritain balik ke saya.

Contohnya, Lety sama Ghanis waktu kita jalan bareng kemarin nginget2 kejadian dimana saya pernah marah banget ampe banting pintu. Hahaha, ampun, percayalah semesta, saya anaknya udah ga gitu lagi ko. Kalo kesel, sekarang saya bawaannya bukan banting pintu, paling juga langsung aja hands up terus ngeloyor cari pepaya di mesko. Tapi hal2 kayak gini yang ngingetin saya kalo saya emang punya anger management issue dan saya harus tetep ngecek emosi saya dari waktu ke waktu biar tetap sehat. Cuma temen-temen lama yang bisa ngingetin saya soal beginian. Mungkin teman2 saya yang masih baru2 sekarang juga yang paling bisa ngingetin kalo saya punya keahlian bullying yang edan suatu hari nanti.

It's always nice to have someone or something that remind you how far you've walked, right? ;)

 
 
Alya Hananti
24 October 2015 @ 10:57 pm

perhaps, in spite of whatever people did to us,
somehow we are able to forgive them,
we want to forgive them.

and then what will happen to your self-care project and happiness, Al...

Somehow I want to say, "I've been there too a few times."

The snapback to reality never really goes easy, yeah? Bismillah, only Allah knows what (&who) troubles my mind. Only Allah that ought to hear my begs, my pleads, my prayers, and my tears.